CATATAN!

Satire boleh tajam. Fakta tetap harus jelas.

EDISI 30.08.2026
EDITORIAL PENDIDIKAN

Dana Sat Set, Guru Tetap Seret?

Yang satu dipamerkan. Yang satu cuma ditadahi ember.

10 PANEL GULIR UNTUK MEMBACA ↓
Halaman 1 ("Dana Sat Set, Guru Tetap Seret?"): SD Negeri Harapan 01 yang atapnya bocor berdiri di samping deretan etalase - inovasi keripik ubi ungu BRIN, katalog pengadaan mobil golf bertanda "siap", motor trail untuk karhutla, dan helikopter water bombing; papan tulis memuat daftar fakta anggaran pendidikan.
01"Buat macam-macam cepat ada. Buat guru dan sekolah, kok selalu berat?" Fakta singkat: APBN Pendidikan 2026 sekitar Rp757,8 T; alokasi gaji/kesejahteraan guru dan dosen sekitar Rp178,7 T; TPG ASN 2026 diproyeksikan sekitar Rp72,2 T.
Halaman 2: Di pameran inovasi pangan ubi ungu di Istana, staf muda membandingkannya dengan ruang kelas bocor yang ditadahi ember; papan tulis menutup dengan "Catatan Kecil: riset perlu, inovasi perlu, tapi sekolah aman juga perlu".
026 Agustus 2026, pameran 150 periset BRIN di Istana. "Riset penting, Pak." "Tapi atap kelas juga penting, dan bocornya tiap hujan." "Yang satu dipamerkan. Yang satu cuma ditadahi ember." Catatan kecil: riset perlu, inovasi perlu, tapi sekolah aman juga perlu.
Halaman 3: Petugas pengadaan menunjukkan katalog mobil golf yang serba lengkap dan cepat; dibandingkan dengan daftar kebutuhan sekolah rusak (atap, toilet, kursi, air bersih) yang semuanya bertanda tanya. Pertanyaan hari ini: kalau pendidikan prioritas, kenapa sekolah rusak sering terasa paling belakang?
03Katalog pengadaan mobil golf: spesifikasi, harga, penyedia, pengiriman — semua tercentang, "kelihatan cepat". "Kalau plafon kelas ambruk, jalurnya secepat ini juga?" "Eh... beda proses." "Yang satu checklist. Yang satu wish list."
Halaman 4 ("Penanganan Karhutla"): Rapat koordinasi menyiapkan armada motor trail dan helikopter pemadam; sementara itu anak-anak belajar di kelas bocor sambil memegang payung. Guru: "Karhutla penting. Tapi kelas aman juga penting."
04Rapat karhutla menyiapkan 100 motor trail dan helikopter water bombing — "medannya sulit, jadi ini membantu", "masuk akal". "Kalau genting sekolah bocor, daruratnya dihitung kapan?" "Saya tidak bilang yang sana tak penting. Saya cuma heran kenapa yang sini jarang dianggap sama gentingnya."
Halaman 5: Guru menuliskan angka-angka APBN Pendidikan 2026 di papan tulis; seorang pejabat di meja penuh tumpukan pos anggaran (infrastruktur, pertahanan, kesehatan, subsidi, utang negara, IKN, bansos) berkata kenaikan gaji semua guru "hitungannya berat". Pesan: kalau guru disebut fondasi bangsa, jangan biarkan fondasinya hidup pas-pasan terus.
05Kelas anggaran: APBN Pendidikan 2026 sekitar Rp757,8 T; alokasi guru dan dosen sekitar Rp178,7 T; TPG ASN sekitar Rp72,2 T; tunjangan awal 2026 di atas Rp18 T untuk lebih dari 1,6 juta guru ASND. "Berat di uang, atau berat di kemauan?" "Budget adalah pilihan."
Halaman 6: Guru mengajar dari "Kamus Anggaran"; papan tulis mendefinisikan PRIORITAS versi birokrasi sebagai rangkaian "menunggu", dan menyimpulkan yang jalan cepat hanyalah yang jalurnya memang sudah ada.
0622 Agustus 2026, pelajaran "Kamus Anggaran". PRIORITAS secara bahasa berarti didahulukan; dalam praktik: menunggu rapat, menunggu kajian, menunggu tanda tangan, menunggu anggaran cair, menunggu yang sedang menunggu. "Bedanya prioritas dan slogan apa, Bu?" "Kadang... realisasinya."
Halaman 7: Rapat pejabat menyetujui dengan lantang setiap tahap prosedur (bentuk tim, kaji, harmonisasi), tetapi terdiam ketika seorang staf melaporkan genteng sekolah jatuh hari itu dan menunda urusannya ke rapat berikutnya.
07"Kita bentuk tim." "SETUJU!" "Lalu kita kaji." "SETUJU!" "Sesudah itu harmonisasi." "SETUJU!" "Pak, di sekolah kami genteng jatuh hari ini." "..." "Masukkan ke rapat berikutnya." "Perlu data tambahan." "Kok rasa gentingnya selalu jatuh belakangan?"
Halaman 8: Seremoni pengguntingan pita gedung "Program Baru" yang megah dibandingkan dengan SD Negeri Pelosok 01 yang reyot; orang tua murid berkata "kami tidak iri pada bangunan baru, kami cuma ingin anak-anak belajar di tempat yang aman".
08Gunting pita "Program Baru": "sat set, bangunan siap!" Di seberang, SD Negeri Pelosok 01 "sudah lama menunggu rehab". "Kalau bangunan baru bisa cepat, kenapa perbaikan sekolah lama sekali?" "Mekanismenya berbeda." "Kalau kemauannya?"
Halaman 9 ("Forum Suara Publik"): Perwakilan sekolah, guru, riset, dan penanganan karhutla duduk bersama; seorang pejabat berpidato di bawah spanduk "Pendidikan Prioritas" yang tetesan airnya membasahi tulisannya sendiri.
09Forum Suara Publik: "Kami tidak anti riset. Kami tidak anti kendaraan kerja. Kami cuma bingung, kenapa rasa pentingnya beda?" Spanduk "PENDIDIKAN PRIORITAS" sendiri ikut bocor. "Kalau cuma jadi slogan, bahkan posternya ikut bocor."
Halaman 10: Setelah "Persetujuan Rehab Sekolah" disetujui, tukang memperbaiki atap kelas dan sebuah spanduk "Sekolah Aman, Guru Tenang" terbentang; guru, murid, orang tua, dan pejabat berfoto bersama di depan sekolah yang sudah diperbaiki.
10Penutup: "Guru yang hidup layak bukan beban — itu investasi juga. Prioritas terlihat dari siapa yang dibantu lebih dulu." Rehab sekolah akhirnya dimulai, spanduk "Sekolah Aman, Guru Tenang". "Kalau benar pendidikan prioritas, jangan biarkan guru dan sekolah selalu kalah cepat."
DI BALIK PANEL

"Kalau pendidikan katanya prioritas, kenapa rasa mendesaknya sering kalah duluan?"

Dana bisa "sat set" kalau memang diniatkan: pameran 150 periset di Istana, katalog pengadaan mobil golf yang "tersedia", ratusan motor trail dan helikopter water bombing untuk karhutla. Semua itu punya alasan. Yang jadi pertanyaan komik ini: kenapa atap kelas yang bocor tiap hujan justru ditadahi ember dulu, dan rehab sekolah "masuk rapat berikutnya"?

Komik ini tidak anti-riset, tidak anti-kendaraan kerja, tidak menganggap karhutla remeh. Ia cuma menaruh dua hal bersebelahan: yang satu dipamerkan, yang satu ditadahi ember. "Budget adalah pilihan," kata gurunya. "Prioritas itu terlihat dari siapa yang dibantu lebih dulu."

Akhirnya rehab sekolah dimulai — dan itulah nada yang dituju: bukan menyalahkan satu pos anggaran, tapi meminta agar guru dan sekolah tidak selalu kalah cepat.

FAKTA / REFERENSI

Sumber & referensi

Bagian ini memuat rujukan faktual yang menjadi konteks karya. Satire dan opini tetap merupakan interpretasi kreatif redaksi.

  1. 01

    Informasi APBN dan Anggaran Pendidikan

    Kementerian Keuangan Republik Indonesia

    Rujukan resmi untuk memeriksa alokasi dan realisasi anggaran negara, termasuk anggaran fungsi pendidikan.
  2. 02

    Data Sarana-Prasarana Sekolah dan Kesejahteraan Guru

    Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

    Portal kebijakan pendidikan dasar dan menengah, termasuk rehabilitasi sekolah dan tunjangan guru.
  3. 03

    Katalog dan Sistem Pengadaan Pemerintah

    Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)

    Konteks mengenai katalog elektronik dan mekanisme pengadaan barang/jasa pemerintah.
RUANG PEMBACA

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.

TINGGALKAN KOMENTARKomentar tampil setelah dimoderasi.
BONGKAR ARSIP

Tekan Enter untuk mencari · Esc untuk tutup